Layanan Unggulan | 6 Desember 2021 09:46

Sel Punca (STEM CELL)

Untuk memenuhi Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 833 / MENKES / PER / IX / 2009 dan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 328/2013 tentang Pengelolaan Stem Cell Research, pengembangan, dan Jasa,
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo - Universitas Indonesia Medical School telah membentuk laboratorium Stem Cell Research, pengembangan, dan Penerapan Clinical sejak 2012.
laboratorium merupakan bagian integral dari Unit Perawatan Terpadu untuk Stem Cell Therapy dan terletak di lantai 5 dari CMU 2 Bangunan di kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Laboratorium ini dimiliki oleh pemerintah dan pertama di Indonesia yang telah berhasil memenuhi Standar GMP. Karena prestasi itu, laboratorium ini mampu melakukan skrining infeksi penyakit, tes kualitas, tes diferensiasi, dan penelitian sel induk terapan lainnya.

Unit Perawatan Terpadu untuk Stem Cell Therapy dapat melakukan beberapa terapi translasi, seperti:
-Terapi sel punca untuk patah tulang yang gagal sambung (fraktur non union) dan  fraktur tulang panjang dengan defek tulang kritis (defek tulang lebih dari 5 cm)
-Terapi sel punca untuk defek tulang rawan (defek kartilago)
-Terapi sel punca untuk Cedera Saraf Pusat (Spinal Cord Injury)
-Terapi sel punca untuk infark miokard dan endstage cardiac disease
-Terapi sel punca untuk penyakit pembuluh darah perifer (Peripheral Arterial Disease) pada penyandang diabetes
-Terapi Cultured Ephitelial Autograft (CEA) secara autolog pada pasien luka bakar

Pelayanan unggulan Stem Cell and Metabolic Clinic  yang berlokasi di RSCM Kencana, memberikan pelayanan berupa konsultasi, pemeriksaan penunjang berupa laboratorium dan radiologi, terapi implantasi sel punca, dan terapi rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan hasil implantasi :

Untuk pelayanan unggulan tersebut dapat dilakukan pada kasus-kasus sebagai berikut : 
1.Osteoartritis Lutut Grade 1 dan 2
Osteoartritis Lutut adalah gangguan sendi yang umum dijumpai, ditandai nyeri, krepitasi, dan morning stiffness pada sendi lutut. Osteoartritis dapat terjadi pada salah satu atau kedua lutut dengan bukti perubahan 
radiologis sendi lutut grade I atau II. Untuk pasien-pasien yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI) dibawah 30 dan mengalami nyeri sendi yang tidak hilang dengan terapi non farmakologis atau terapi farmakologis dengan analgetik, 
dapat dilakukan terapi implantasi sel punca.
 
2.Spinal Cord Injury
Spinal cord injury (SCI) atau cedera saraf tulang belakang, memiliki insiden sebesar 15-40 kasus per 1 juta penduduk dunia. Gejala yang timbul karena SCI yaitu dapat menyebabkan kelemahan ekstremitas, kesemutan atau rasa baal, 
gangguan mengontrol BAB / BAK, kelumpuhan, gangguan pernafasan. Pada pasien yang mengalami spinal cord injury dapat dilakukan implantasi sel punca.  
 
3.Degenerasi Diskus Intervertebralis
Intervertebralis disc degeneration merupakan perubahan yang terjadi secera berkesinambungan pada diskus atau bantalan tulang belakang sampai menyebabkan keluhan nyeri.
Kondisi ini terjadi salah satunya disebabkan oleh adanya proses degenerasi atau semakin bertambahnya usia sehingga pada diskus degenerasi terjadi elastisitas dan sifat diskus intervertebra mengalami penurunan dan memicu keluhan nyeri.
Penyebab dan pemicu dari degenerasi diskus yaitu :
1.Trauma atau cedera
2.Degenerasi karena proses alami penuaan
3.Beban pekerjaan yang berat terutama yang menumpu pada tulang belakang
4.Posisi tubuh yang tidak tepat
5.Obesitas
6.Osteoporosis
 
4.Osteoporosis
Osteoporosis atau lebih dikenal dengan pengeroposan tulang belakang, dapat terjadi pada setiap orang. Adapun faktor resiko terjadinya osteoporosis yakni :
A.Wanita terutama pasca menopause
B.Pria perokok
C.Riwayat osteoporosis pada keluarga
D.Gaya hidup tidak aktif
E.Usia
F.Rendahnya kadar testosteron
G.Konsumsi alkohol
H.Bentuk tubuh kecil
I.Kekurangan calsium dan vitamin D
J.Konsumsi steroid dan obat kejang
K.Kondisi medis yang menghambat penyerapan kalsium
Keluhan atau masalah osteoporosis dapat diatasi dengan melakukan terapi sel punca, sehingga pasien mendapatkan manfaat yang nyata disertai peningkatan kualitas hidup.
 
 
5.Spondyloarthrosis
Spondyloarthrosis adalah degenerasi yang terjadi pada tulang belakang. Tanda dan gejala yang mungkin muncul yaitu nyeri pada pinggang bawah sebelum usia 35 tahun terkadang menjalar ke pantat, nyeri pinggang lebih dari 3 bulan, 
nyeri membaik dengan bergerak dan obat nyeri, dan sering terbangun karena nyeri. 
Faktor resiko yang dapat menyebabkan spondyloarthrosis yaitu riwayat keluarga dengan spondyloarthrosis, riwayat nyeri pada sendi jari tangan dan kaki, riwayat psoriasis (kulit kering akibat reaksi imun), 
riwayat nyeri pada tumit kaki, riwayat uveitis (infeksi pada lapisan mata tengah).
Terapi implantasi sel punca juga dapat membantu pemulihan spondyloarthrosis, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
 
 
6.Multiple System Atrophy
       Multiple System Atrophy (MSA) adalah gangguan sistem saraf yang umumnya dimulai pada usia tua ditandai dengan hilangnya fungsi sistem saraf dalam mengatur tubuh secara perlahan. Gejala yang mungkin muncul yaitu parkinson, 
penurunan fungsi motorik (kemampuan gerak), penurunan tekanan darah secara tiba-tiba setelah makan, gangguan keseimbangan, gangguan BAK dan BAB,  dan disfungsi ereksi.
Dengan implantasi sel punca melalui intratekal diharapkan dapat membantu penurunan fungsi yang dirasakan dan dapat menambah kepercayaan diri pasiennya. 
 
7.Kulit yang mengalami penuaan
Proses penuaan kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Kulit merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktor-faktor luar terutama radiasi sinar ultraviolet, 
dan karena terlihat oleh orang lain sehingga akan mempengaruhi kehidupan sosial individu. 
Penuaan kulit intrinsik merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia, dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin, gen, hormon, dan sebagainya, sedangkan penuaan kulit ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai 
faktor dari lingkungan, seperti gaya hidup, polusi, serta terutama paparan sinar ultraviolet (photoaging). 
Dengan pemberian sekretome pada kulit dapat mengkondisikan mesenkim pada kulit yang mengalami penuaan. 
 
8.Alopesia Androgenik
   Alopesia androgenetik adalah penipisan rambut akibat adanya rangsangan hormon androgen terhadap folikel rambut. Angka kejadian pada laki-laki lebih banyak dibanding pada perempuan. Kondisi ini dapat 
menimbulkan efek baik psikis maupun psikologis kepada pasien. Efek psikis akibat kebotakan menyebabkan hilangnya fungsi rambut sebagai proteksi terhadap panas, dingin dan trauma. Sedangkan secara psikologis 
dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan persepsi terhadap diri pasien. 
Kemajuan teknologi kesehatan dalam hal sel punca dapat membantu mengatasi masalah alopesia, dengan pemberian metabolit sel punca pada kebotakan. 
 
9.Disfungsi Ereksi DM tipe 2
Disfungsi ereksi pada seorang pengidap diabetes terjadi karena adanya perubahan pada tubuh yang menyebabkan gangguan pada saraf dan pembuluh darah. Tingginya kadar gula dalam darah dapat merusak fungsi alami pembuluh darah, 
sehingga seseorang tidak dapat ereksi dengan maksimal.  
 
10.Penyakit otak dan saraf
Penyakit otak dan saraf yang dimaksud seperti penyakit stroke. Stroke merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit stroke. 
Sekitar 85% kasus stroke disebabkan oleh stroke
iskemik atau infark parenkim otak. Stroke infark pada dasarnya terjadi akibat kurangnya aliran
darah ke otak. Penurunan aliran darah yang semakin parah dapat menyebabkan kematian
jaringan otak. 
Salah satu pengobatan alternatif yang kelak mampu memulihkan pasien stroke serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas kasus stroke yaitu terapi sel punca neuronal.
Transplantasi sel punca pada gangguan neurologis termasuk  stroke  bertujuan  untuk menggantikan atau memperbaiki fungsi biologis dari sel neuron yang rusak agar dapat mempertahankan atau memulihkan fungsi otak.
 
    
11.Diabetes Melitus  Tipe 2
DM merupakan penyakit kronis kompleks yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi kronis. 
Penyakit ini dikategorikan menjadi dua yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Sekitar 95% dari total kasus DM global adalah DM tipe 2.
Terapi terstandar untuk DM tipe 2 meliputi perubahan pola hidup penderita yang dapat berlanjut ke terapi medikamentosa (obat). Keseluruhan terapi ini difokuskan untuk mencapai target glikemik, 
di mana pemeriksaan laboratorium menggunakan angka HbA1C sebagai acuan.
Stem cell autologus untuk aplikasi klinis masih dianggap layak karena stem cell dapat diperoleh dalam jumlah banyak dengan mudah dari jaringan lemak tubuh pasien, serta meniadakan reaksi penolakan dari tubuh pasien. 
Hanya saja upaya rehabilitasi perlu dilakukan agar efek terapi stem cell autologus menjadi maksimal
   
12.Cedera  Plexus  Brakialis
Brachial plexus merupakan sekelompok jaringan saraf yang saling bertautan dan berada di leher, dada bagian atas, dan ketiak. Saraf yang menyusun brachial plexus berperan dalam pergerakan dan sensor tangan, lengan, serta bahu.
Cedera brachial plexus adalah kerusakan pada kelompok saraf tersebut. Cedera ini dapat berupa saraf tertekan, tertarik, robek, atau putus. Gejala penyakit ini tergantung pada seberapa parah kerusakan saraf yang terjadi. 
Brachial plexus tersusun atas lima saraf yang memiliki fungsi berbeda-beda. Cedera pada saraf yang satu akan memberikan keluhan yang berbeda dengan cedera pada saraf lainya.
Cedera brachial plexus tingkat ringan umum terjadi pada atlet yang banyak melibatkan adu badan antarpemain, seperti pegulat. Namun kondisi ini juga bisa dialami oleh bayi ketika proses kelahiran.
 
13.Gagal Ginjal Terminal pada anak
Gagal ginjal terminal merupakan kondisi yang tidak reversibel dan berlanjut pada kematian. Hal tersebut masih merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas pada anak. 
Gagal ginjal terminal merupakan penyakit dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi disertai dengan berbagai masalah gangguan tumbuh kembang dan gangguan psikososial. 
Keseluruhan hal tersebut mempunyai dampak terhadap kualitas hidup anak. 
Saat ini muncul terapi modern utntuk membantu mengatasi gagal ginjal terminal pada anak, yaitu dengan implantasi sel punca. Dengan terapi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
 
 
14.Defek tulang belakang
Bone defect atau defek tulang merupakan suatu kondisi serius yang muncul setelah proses patologis yang telah merusak komponen vital tulang. Kondisi tersebut ditandai dengan kurang atau hilangnya jaringan tulang 
yang akan mempengaruhi fungsi tulang dalam menopang tubuh. Bone defect juga biasanya diikuti dengan cedera pada jaringan lunak seperti otot, sendi, tendon dll. 
Bone defect dapat disebabkan oleh berbagai insiden seperti trauma, penyakit (osteoporosis dan osteosarcoma) atau tindakan operasi seperti pengangkatan jaringan tumor.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk kasus bone defect salah satunya yaitu dengan pemberian/pencangkokan tulang (bone graft) pada daerah yang mengalami kehilangan atau kerusakan jaringan tulang tersebut.
Sel punca mesenkim atau mesenchymal stem cells (MSC) diketahui mampu berdiferensiasi menjadi beberapa jaringan termasuk di dalamnya jaringan tulang keras, jaringan tulang lunak dan jaringan lemak. 
Oleh karena kemampuannya tersebut, MSC memberikan harapan baru dalam terapi pengobatan pada kasus bone defect.
 
15.Glaukoma
Glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. 
Seseorang yang menderita kondisi ini dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, hingga sakit kepala. Kebutaan akibat glaukoma ini bersifat permanen atau tidak dapat diperbaiki.
Pengobatan saat ini untuk glaukoma terdiri dari penurunan tekanan intraokular dengan obat tetes mata, prosedur laser atau operasi. Terapi yang mulai berkembang saat ini yaitu terapi dengan  
menggunakan sel punca ini diantaranya yaitu penggantian sel ganglion retina dengan regenerasi saraf optik dan stem cell pelindung saraf yang dimediasi.
 
16.Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas dan suhu sangat rendah. Gambaran klinis pada luka bakar berupa ditemukan warna kemerahan, 
bulla, edema, nyeri atau perubahan sensasi.  Sel punca dapat mempercepat penyembuhan luka bakar. 
 
17.CTEV (Congenital Talipes Equinovarus)
Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki pengkor, terjadi kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan menarik kaki ke arah dalam. Penyebab yang pasti belum dapat diketahui. 
Kelainan ini mulai terbentuk pada awal masa embrionik. Secara fisiologis ketika masih berada di kandungan, posisi kaki memang menghadap ke dalam. Namun, setelah lahir perlahan posisi kaki mulai ke depan dan terlihat normal. 
Sehingga perlu diwaspadai jika posisi kaki tersebut menetap setelah lahir. Kelainan ini akan semakin berkembang dan semakin sulit pula untuk dikoreksi seiring bertambahnya usia.
Metode terapi yang konvensional yang dilakukan adalah peregangan kembali tendon-tendon tersebut secara berkala dan penggunaan gips. Waktu terbaik pemakaian gips pada metode ini adalah 1-2 minggu pertama pasca kelahiran. 
Pemasangan gips secara berkala yang dilakukan setiap minggu selama kurang lebih 6 minggu. 
Saat ini mulai ada metode terapi modern dengan menggunakan implantasi sel punca. Dengan terapi ini diharapkan pasien lebih nyaman dan mendapatkan hasil yang lebih optimal.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan Hubungi

Sel Punca : 085100539917 (Whatsapp Only)

WA Center RSCM Kencana : 082112577929 ( Whatsapp Only)

Call Center RSCM 1500135 

Share :         

Copyrights 2017 All Rights Reserved by RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.