Gangguan Berkemih pada Kehamilan:
Tanda, Solusi, dan Pencegahan
dr. Fina Widia, Sp.U(K)
KSM Urologi
Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh, salah satunya adalah perubahan pada pola buang air kecil (BAK). Gangguan berkemih merupakan salah satu keluhan yang cukup sering dialami oleh ibu hamil. Kondisi ini dikaitkan dengan perubahan hormon, pertumbuhan rahim dan disfungsi otot dasar panggul pada saat kehamilan. Gangguan berkemih dapat berupa gangguan saat menampung atau mengeluarkan urine, atau dapat juga berupa infeksi saluran kemih. Meskipun sebagian besar menganggap gangguan ini “normal”, namun kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan mengganggu aktivitas seksual maupun sosial pasien.
Gejala yang dirasakan dapat berupa keluhan mengompol (inkontinensia urin), peningkatan frekuensi berkemih baik di pagi maupun malam hari (frekuensi dan nokturia), kesulitan untuk memulai proses berkemih, mengejan saat berkemih ataupun. Keluhan mengompol dapat terjadi saat ada peningkatan tekanan di dalam perut akibat batuk, bersin, tertawa, atau olah raga yang dikenal dengan istilah inkontinensia urin tipe tekanan atau stress urinary incontinence atau keluhan mengompol dapat diawali dengan keinginan berkemih yang kuat dan sulit dikendalikan (urgency) yang dikenal dengan istilah inkontinensia urin tipe desakan/urge urinary incontinence. Selain itu, infeksi saluran kemih (ISK) juga lebih mudah muncul pada masa kehamilan. Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gejala klinis gangguan berkemih atau dapat memperburuk keluhan berkemih yang sebelumnya sudah ada. Pada ibu hamil yang mengalami infeksi saluran kemih saat kehamilan, dapat mengeluhkan nyeri saat proses berkemih, ada darah di urine, rasa tidak nyaman di area perut bawah atau demam. Bakteri di urine (bacteriuria) pada ibu hamil perlu ditangani untuk mencegah ascending infection dan pyelonephritis yang berkaitan dengan kondisi yang tidak menguntungkan untuk ibu dan bayi di dalam kandungannya seperti sepsis, preeklampsia, kelahiran premature, berat badan lahir rendah atau gangguan perkembangan janin. Oleh karena itu, skrining urin pada kunjungan antenatal penting untuk mendeteksi dan mengobati lebih awal demi menjaga kesehatan ibu dan janin.
Mengapa bisa terjadi?
- Perubahan hormon: otot jadi lebih “relaks”
- Tekanan rahim yang membesar: kandung kemih cepat penuh
- Otot dasar panggul meregang: “penjepit” melemah
- Aliran urin lebih lambat: kuman lebih mudah naik
- Faktor yang memperberat, seperti:
- Sembelit & sering mengejan saat BAB
Mengejan kuat berulang-ulang membuat otot penopang kandung kemih jadi lelah/lemah, sehingga urine lebih mudah bocor saat batuk atau tertawa. - Batuk lama (kronis)
Batuk terus-menerus memberi “hentakan” berulang ke kandung kemih. Akibatnya, keluhan bocor bisa makin sering. - Kebiasaan menahan kencing
Urine yang terlalu lama mengendap di kandung kemih membuat kuman lebih mudah berkembang, sehingga risiko infeksi saluran kemih (ISK) meningkat. - Minum banyak menjelang tidur
Cairan berlebih di malam hari membuat sering terbangun untuk BAK (nokturia). - Faktor lain: persalinan normal (pervaginam), obesitas, dan diabetes
Hal-hal ini dapat melemahkan jaringan penopang atau mengganggu fungsi saraf, sehingga keluhan ngompol saat aktivitas (SUI) atau dorongan mendadak ingin BAK (OAB) lebih mudah muncul.
- Sembelit & sering mengejan saat BAB
Saat hamil, hormon kehamilan (progesteron dan estrogen) membuat otot saluran kencing lebih kendur. Akibatnya, saluran kencing dan kandung kemih sedikit melebar, aliran urine lebih lambat, dan “katup” penahan kencing tidak sekuat biasanya. Dampaknya, ibu jadi lebih sering ingin BAK, kadang sulit menahan dorongan, dan bisa bocor saat batuk atau tertawa. Otot kandung kemih juga bisa menebal sebagai bentuk penyesuaian, sehingga rasa ingin BAK bisa muncul lebih mudah.
Seiring janin tumbuh, rahim mendorong kandung kemih ke atas dan ke depan. Akibatnya, ruang kandung kemih terasa lebih kecil dan cepat penuh, jadi ibu jadi lebih sering ingin BAK dan lebih sering terbangun malam. Tekanan mekanis ini juga bisa mengganggu pengosongan tuntas, sehingga sebagian urin tertinggal dan keluhan sering kembali ingin BAK (sering “bolak-balik toilet”).
Saat hamil dan melahirkan, otot-otot dasar panggul ikut meregang seperti karet yang tertarik. Akibatnya, “penjepit” saluran kencing jadi lebih lemah, sehingga urin bisa bocor saat batuk, bersin, atau mengangkat barang. Selain itu, otot kandung kemih kadang berkontraksi terlalu cepat—muncul dorongan mendesak ingin BAK. Kabar baiknya, keluhan ini biasanya membaik setelah melahirkan seiring pemulihan otot-otot tersebut.
Saat hamil, saluran kencing dari ginjal ke kandung kemih (ureter) bisa melebar, sehingga aliran kencing jadi lebih lambat dan kadang ada sisa urine tertinggal. Hal ini lebih sering terlihat di sisi kanan karena posisi rahim yang sedikit bergeser. Di saat yang sama, tubuh juga membuat lebih banyak urine dan posisi kandung kemih ikut berubah karena terdorong rahim. Kombinasi ini membuat kuman lebih mudah berkembang dan naik, sehingga risiko infeksi saluran kemih (ISK) menjadi lebih tinggi.
Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah gangguan berkemih saat kehamilan diantaranya dengan Latihan otot dasar panggul (Senam Kegel) dan perubahan gaya gaya hidup.
- Latihan otot dasar panggul (senam Kegel) sejak awal kehamilan
- Melatih kandung kemih
Pengaturan asupan cairan dan makanan
Ikuti skrining urin pada kunjungan antenatal, meski tanpa keluhan
- Jaga kebersihan area genital
Senam Kegel ditujukan untuk menguatkan otot dasar panggul yang menjadi “penopang” kandung kemih dan uretra. Senam Kegel dilakukan dengan mengkontraksikan otot panggul (seolah menahan BAK) selama beberapa detik lalu dilanjutkan dengan merelaksasikan otot tersebut. Bernapaslah normal dan jangan ikut menegangkan perut, paha, atau bokong. Tindakan ini dilakukan berulang sebanyak 10 kali dan dilakukan beberapa kali per hari. Hindari melakukan senam Kegel saat berkemih, karena hal ini bisa mengganggu pengosongan kandung kemih. Apabila ibu hamil tidak yakin apakah telah mengerjakan senam Kegel dengan benar, ahli fisioterapi dapat membantu melatih dan mensupervisi tindakan ini.
Melatih kandung kemih dapat dilakukan dengan mengatur waktu berkemih. Hindari kebiasaan menahan kencing terlalu lama karena hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan membuat kandung kemih “terbiasa” menunda. Jika sering merasa tidak tuntas, cobalah mencari posisi berkemih yang baik dengan badan sedikit condong ke depan dan memastikan kedua kaki menyokong badan dengan baik. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan sisa urine di kandung kemih pasca berkemih.
Pastikan untuk mengkonsumsi cairan yang cukup selama kehamilan. Jadwal minum dapat diatur dengan mengkonsumsi cairan lebih banyak di pagi dan siang hari untuk mengurangi keluhan sering berkemih di malam hari. Minuman atau makanan yang mengiritasi kandung kemih seperti kafein (yang terkandung dalam kopi, teh, coklat, minuman energi, dan minuman bersoda) disarankan untuk dihindari karena dapat merangsang kandung kemih. Pencegahan sembelit/konstipasi juga disarankan dengan mengkonsumsi serat cukup (sayur, buah, kacang, biji-bijian) dan minum air secukupnya (8-12 gelas/ hari)
Pemeriksaan urin penting untuk mendeteksi bakteriuria tanpa gejala, yang pada kehamilan berisiko berkembang menjadi infeksi ginjal. Sampel biasanya diambil dengan teknik midstream clean-catch (bersihkan terlebih dulu, tampung urin aliran tengah). Bila pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri di urine, dokter akan meresepkan antibiotik yang aman untuk kehamilan sehingga ibu dan janin tetap terlindungi.
Menjaga kesehatan area genital dapat dilakukan dengan memperhatikan cara berkemih. Basuh area genital dari depan ke belakang setiap selesai BAK atau BAB untuk mencegah kuman dari anus masuk ke uretra. Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat dan ganti bila lembab. Hindari penggunaan sabun kewanitaan, pewangi, atau douching karena dapat mengiritasi dan mengganggu keseimbangan flora normal. Setelah berenang atau banyak berkeringat, segera bilas dan ganti pakaian dalam agar area tetap kering. Ibu hamil juga disarankan untuk berkemih sebelum dan setelah aktivitas seksual untuk mencegah timbulnya infeksi saluran kemih.
Ibu hamil juga disarankan untuk menjaga kesehatan secara umum dengan menjaga berat badan di dalam rentang yang disarankan oleh dokter, aktif olahraga selama kehamilan dan berhenti merokok karena merokok dapat menyebabkan kelemahan pada otot dasar panggul.
Pengobatan gangguan berkemih pada kehamilan berfokus pada tatalaksana non-invasif seperti senam Kegel, Latihan kandung kemih (bladder training), perubahan pola hidup serta obat-obatan. Penanganan dimulai dari langkah sederhana yang juga dijelaskan pada bagian pencegahan. Artinya, pola minum yang tepat, membatasi kafein/soda, tidak menahan BAK, mencegah sembelit, menjaga kebersihan area genital, dan rutin senam Kegel adalah terapi lini pertama. Langkah-langkah ini aman untuk ibu hamil dan sering kali sudah cukup mengurangi keluhan. Selain Kegel, ibu dapat menerapkan latihan kandung kemih (bladder training): buat jadwal ke toilet tiap 2–3 jam di siang hari, lalu perpanjang perlahan sesuai kemampuan. Saat dorongan BAK muncul mendadak, lakukan kontraksi Kegel cepat 5–10 kali sambil tarik napas tenang, lalu berjalan pelan ke toilet. Ketika berkemih, duduk nyaman, condongkan badan sedikit ke depan; bila terasa belum tuntas, tunggu sejenak lalu coba BAK ulang (double voiding) tanpa mengejan. Apabila gangguan berkemih disebabkan karena infeksi saluran kemih maka dokter akan memberikan antibiotik untuk dikonsumsi.
Ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi ke dokter bila didapati adanya gangguan berkemih atau perburukan gejala gangguan berkemih untuk mengetahui penyebab keluhan serta mendeteksi dan menangani dini bila terdapat infeksi saluran kemih yang dapat menyebabkan komplikasi pada ibu ataupun bayi.
Referensi:
- European Association of Urology (EAU). Guidelines on Non-neurogenic Female Lower Urinary Tract Symptoms (Female LUTS). Arnhem: EAU Guidelines Office; 2025
- Cameron AP, Chung DE, Dielubanza EJ, et al. The AUA/SUFU Guideline on the Diagnosis and Treatment of Idiopathic Overactive Bladder. American Urological Association; 2024
- Doumouchtsis SK, et al. An International Continence Society (ICS)/ International Urogynecological Association (IUGA) joint report on the terminology fot the assessment and management of obstetric pelvic floor disorders. Continence. 2023; 4;100502
- ACOG Clinical Consensus. Urinary Tract Infections in Pregnant Individuals. Obstet Gynecol. 2023;142(2):435-445
- Chen H-J, et al. Overactive Bladder during Pregnancy: A Prospective Longitudinal Study. J Clin Med. 2022;6;58(2):243
- Moossdorff-Steinhauser HFA, et al. Prevalence, incidence and bothersomeness of urinary incontinence during pregnancy and postpartum: systematic review & meta-analysis. Int Urogynecol J. 2021;13;32(7):1633-1652
- White J, et al. Urological issues in pregnancy: a review for urologists. Can Urol Assoc J. 2020; 14(10):352-357
- Minami R, et al. Urinary function changes during pregnancy assessed by frequency volume charts in a prospective longitudinal study. Int Urogynecol J. 2025;15:24710
- Destegül E, et al.Prevalence, affecting factors and relationship with toileting behaviors of lower unrinary tract symptoms in pregnant women: a cross-sectional study. Eur Rev Med Pharmacol Sci. 2023; 27:6769-6779
- Arismendi E, et al. Diagnosed and undiagnosed cough-related stress urinary incontinence. Respir Med. 2024;21:14799731241273751
- Woodley SJ, et al. Pelvic floor muscle training for preventing and treating incontinence in antenatal and postnatal women. Cochrane Review, 2020
- Chaliha C. Postpartum bladder dysunction. Reviews in Gynaecological and Perinatal Practice. 2006;6:133-139 doi:10.1016/j.rigapp.2006.05.007





