MENGATASI STRES PADA MASA KEHAMILAN
dr. Sylvia Detri Elvira, Sp.KJ, Subsp.PK(K)
KSM Psikiatri
Mengandung dan melahirkan bayi merupakan suatu peristiwa sangat penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan. Menjadi seorang ibu membuat seorang perempuan merasa telah berfungsi utuh dalam menjalani kehidupannya, di samping beberapa fungsi yang lain, seperti sebagai istri, sebagai bagian dari keluarga, sebagai anak dari kedua orangtuanya, serta sebagai anggota dari keluarga besar dan masyarakat.
Dengan mengandung, seorang perempuan pada umumnya terkondisi untuk memersiapkan diri agar bisa berperan sebagai seorang ibu; hal tersebut dapat membuat hidupnya menjadi lebih berarti dan bermakna; rasa percaya dirinya pun meningkat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.
Tidak demikian halnya dengan sebagian kecil perempuan yang justru merasa stres, cemas, sedih, jengkel, lelah, ingin marah saja, merasa tidak berarti saat melihat bentuk tubuhnya berubah, mengalami mual-mual yang mengganggu aktivitas, serta putus asa, dalam menjalani hari-hari saat mengetahui atau sudah menjalani masa kehamilan. Kondisi tersebut dapat berlanjut hingga seusai melahirkan bayi. Pasca persalinan, perasaan tersebut dapat diikuti oleh rasa enggan mengurus bayinya, malas menyusui, ada pikiran untuk bunuh diri atau bahkan ada yang ingin membunuh bayinya.
Bila hal ini dibiarkan berlangsung lama dan tidak diatasi segera, akan berakibat buruk baik bagi sang ibu, bayinya (termasuk bagi perkembangan kepribadiannya), serta bagi hubungan antara ibu dan bayinya. Kondisi seorang ibu yang demikian, dapat memengaruhi pula hubungan suami-istri dalam arti yang luas, antara lain dalam komunikasi, pemberian perhatian, toleransi serta dalam hubungan seksual, yang lama kelamaan dapat pula memengaruhi keutuhan keluarga mereka.
Apakah Perubahan Fisik Dan Psikologis Yang Terjadi Selama Kehamilan?
Pelbagai perubahan fisik dan emosional dapat dialami oleh calon ibu, antara lain merasa tubuhnya tidak cantik lagi, lelah, sedih, cemas, jenuh dan bingung, terlebih bagi yang kondisi kehamilannya tidak direncanakan dan atau diinginkan.
Kondisi ibu selama kehamilan
Perubahan dan adanya pertumbuhan janin dapat memicu terjadinya stres berupa eustress (suatu kondisi tertekan yang dianggap sebagai tantangan), maupun distress (kondisi tertekan yang mengganggu aktivitas sehari-hari).
Masalah kesehatan mental yang sering menimbulkan stres pada kehamilan adalah depresi dan kecemasan yang berlebihan sehingga kondisi-kondisi ini perlu diketahui dan dipahami oleh para calon ibu, calon ayah, keluarga besar serta masyarakat luas. Kondisi psikologis tentu berbeda pada kehamilan yang diinginkan dan direncanakan dibandingkan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan tidak direncanakan.
Pada kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan, pelbagai perasaan dapat dialami oleh seorang perempuan, antra lain menyangkal bahwa ia hamil, marah atau takut, tawar-menawar, depresi dan kemudian pada akhirnya dapat menerima kondisi kehamilannya .
Perasaan menyangkal bahwa ia hamil dapat berlangsung lama atau tidak, tergantung dari kepribadian sang calon ibu tersebut serta makna kondisi hamilnya itu baginya, merupakan kehamilan yang diinginkan atau akibat kegagalan penggunaan kontrasepsi atau perkosaan.
Untuk dapat mengenali dan memahami perubahan pada ibu hamil, kita perlu mempelajari kondisi psikologis yang terjadi pada masa itu, yaitu:
Perubahan psikologis pada trimester (tiga bulan) pertama: secara kasat mata sering tidak terlihat perubahan psikologis. Pada masa ini seorang calon ibu dapat merasakan kecemasan kalau-kalau ia akan kehilangan calon bayinya. Rasa cemas ini merupakan kondisi normal, kecuali bila berlebihan hingga mengganggu aktivitas hariannya.
Perubahan psikologis pada trimester kedua: kecemasan pada trimester kedua dapat lebih menimbulkan problem. Banyak calon ibu merasa lebih sadar diri (self-conscious) bahwa telah terjadi perubahan pada tubuhnya dan kenaikan berat badannya yang terjadi adalah untuk mendukung bayinya, namun perasaan ini pada beberapa ibu dapat menurunkan harga dirinya karena menjadi lebih gemuk.
Perubahan psikologis pada trimester ketiga: pada masa ini para calon ibu mengantisipasi kelahiran bayinya, dan berupaya mengatasi perubahan-perubahan fisik yang dialami. Saat tersebut biasanya tak ada lagi perasaan takut kehilangan bayi, namun muncul kecemasan yang lain, yaitu menyambut kehadiran sang bayi. Juga terdapat kekhawatiran akan proses persalinan dan kelahiran bayinya.
Mimpi-mimpi selama proses kehamilan:
Banyak ibu mengalami mimpi aneh tentang proses kelahiran bayi, sosok bayi yang akan lahir, kehidupan baru sebagai seorang ibu, jenis kelamin bayinya, juga dapat pula bermimpi buruk bahwa mereka terjebak atau mungkin mengalami pelecehan. Selain calon ibu, calon ayah juga mengalami perubahan-perubahan psikologis saat istrinya hamil. Beberapa calon ayah merasa ditinggalkan atau tak diperhatikan, atau adapula yang memertanyakan kemampuan mereka menjadi orangtua kelak.
Apakah Tanda dan Gejala Stres Pada Kehamilan?
Seorang perempuan yang sedang hamil namun stres, akan mengalami perubahan pikiran antara lain terus memikirkan kejadian negatif, menyalahkan diri sendiri dan orang lain secara berlebihan. Perubahan perasaan misalnya merasa tidak tenteram, mudah tersinggung dan marah, sulit konsentrasi, hilang motivasi; sedangkan perubahan perilaku dapat berupa makan terlalu banyak atau justru sedikit, tidur terganggu (tidak bisa tidur atau sebaliknya ingin tidur terus), menghindari orang lain, menghindari tanggung jawab, memulai kebiasaan buruk misalnya merokok, mengkonsumsi alkohol berlebihan.
Stres yang dialami oleh ibu hamil tersebut, menurut ilmu kedokteran jiwa, dapat tampil sebagai beberapa kondisi, dan yang tersering adalah depresi dan kecemasan (anxiety/ansietas), yang kemudian dapat berlanjut hingga pasca persalinan.
Gangguan depresi pada kehamilan
Kondisi ini merupakan kondisi yang sulit dan sensitif, juga merupakan masalah kesehatan mental yang sering dijumpai pada kehamilan (25 %), sehingga perlu dikenali serta dipahami akan ada atau tidaknya, mengingat dampaknya pada ibu dan janin yang dikandung.
Menurut The American Congress of Obstetricians and Gynecologists ( ACOG), sebanyak 14-23% perempuan berjuang mengatasi gejala depresi pada masa kehamilan. Data lain menyebutkan bahwa depresi merupakan gangguan mood yang dialami 1 dari 4 perempuan pada salah satu periode kehidupannya, sehingga dapat pula dijumpai pada masa kehamilan. Depresi acapkali tidak dikenali serta dipahami, karena dianggap merupakan salah satu bentuk ketidakseimbangan hormon. Asumsi ini sebetulnya membahayakan baik bagi ibu maupun janin yang dikandung.
Akibat perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan, seorang perempuan mungkin tidak menyadari bahwa ia mengalami depresi. Awalnya, depresi tampak tak berbeda dari kecemasan, dengan gejala a.l. kelelahan, sulit konsentrasi serta gejala-gejala lain yang khas untuk ibu hamil, lebih sering muncul serta lebih berat. Sang calon ibu dapat pula mengalami gejala-gejala lain, a.l. merasa sedih berkepanjangan sepanjang hari, merasa tidak berguna serta adanya ide suicide (keinginan mengakhiri hidup).
Bila sang ibu pernah mengalami depresi sebelumnya (saat masa kanak atau remaja), ia akan lebih awal menyadari kondisi depresinya, dibandingkan dengan para ibu yang belum berpengalaman. Seorang ibu hamil yang depresi tidak memiliki keinginan untuk merawat diri dan juga janin yang dikandungnya. Ia mungkin saja tidak cukup makan, meminum minuman yang membahayakan janinnya, atau berperilaku yang membahayakan diri dan janinnya, bahkan ada yang berusaha menghentikan kehamilannya, sehingga bayinya dapat terlahir dengan gangguan perkembangan; jadi pengaruh depresi pada kehamilan dapat membahayakan, baik bagi ibu maupun bayi.
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan terjadinya depresi pada masa kehamilan, antara lain:
- problem relasi atau hubungan dengan orang lain
- riwayat depresi pada diri sendiri atau dalam keluarga
- program terapi infertilitas (ketidaksuburan)
- pernah mengalami keguguran
- mengalami peristiwa yang membuat stres
- mengalami komplikasi kehamilan
- ada riwayat trauma psikologik atau pelecehan
Apakah depresi pada masa kehamilan dapat membahayakan janin?
Depresi pada masa kehamilan yang tidak ditatalaksanai berpotensi berbahaya baik bagi ibu maupun bayinya. Bagi ibu dapat menyebabkan malas makan (menyebabkan malnutrisi), mengkonsumsi alkohol, merokok, berperilaku suicidal (cenderung mengarahkan diri kepada tindakan untuk mengakhiri hidup), yang kemudian dapat berakibat kelahiran yang prematur (lahir sebelum waktunya), berat bayi lahir rendah, serta adanya gangguan perkembangan pada bayi.
Bayi yang terlahir dari ibu yang mengalami depresi, biasanya kurang aktif, perhatiannya kurang serta lebih iritabel (sulit tenang, mudah gelisah). Oleh karena itu sangat penting baik ibu maupun bayi mendapat pertolongan yang baik dan benar.
Bagaimana depresi pada masa kehamilan diatasi?
Ada beberapa pendekatan yang biasanya digunakan dalam membantu ibu hamil mengatasi depresinya, antara lain:
- Psikoterapi individual (terapi yang dilakukan dengan cara psikologik; untuk ibu hamil yang sangat tegang, dapat diberikan terapi relaksasi (merelaksasi seluruh otot tubuh, sambil mengatur nafas).
- Medikasi (pemberian obat):
Obat diberikan bila kondisi depresinya berat dan mempunyai keinginan untuk mengakhiri hidup.
Support groups
- Terapi tambahan:
Latihan fisik ringan, misalnya jalan kaki, atau senam ringan.
Istirahat yang cukup, karena bila kurang tidur, kemampuan untuk mengatasi stres akan menurun.
Mengatur diet dan nutrisi. Beberapa jenis makanan berkaitan dengan perubahan mood, kemampuan mengatasi stres. Misalnya kafein, makanan rendah protein berkaitan dengan kenyamanan fisik dan mental.
Ibu yang mengalami depresi ringan atau sedang, mungkin dapat mengatasi gejalanya dengan dukungan teman dan atau keluarga, namun pada depresi yang berat, akan diberi tambahan obat dan psikoterapi.
Gangguan cemas dalam kehamilan
Gangguan Panik
Gambaran yang dapat dikenali yaitu adanya serangan kecemasan berat berulang, yang tidak terbatas pada situasi tertentu ataupun rangkaian kejadian, tiba-tiba dan tidak terduga disebut sebagai serangan panik.
Tanda-tandanya berupa jantung berdebar kencang, nyeri dada, sesak nafas, rasa tercekik, tubuh gemetar, berkeringat, merasa “limbung”, serta hampir selalu disertai rasa takut mati, takut kehilangan kontrol diri atau takut menjadi gila.
Serangan biasanya berlangsung hanya beberapa menit, walaupun kadang-kadang juga bisa lebih lama dan seringkali diikuti oleh ketakutan dan kecemasan yang menetap akan kemungkinan mengalami serangan lagi.
Seringkali juga disertai gejala lain yaitu menghindar pergi ke tempat keramaian yang mungkin tidak ada yang bisa menolongnya, atau tidak bisa menghindar, saat serangan panik itu muncul.
Kejadian gangguan panik pada kehamilan dan pasca persalinan sama dengan yang terjadi pada populasi umum yaitu 1-2%.
Perjalanan penyakit gangguan panik pada kehamilan bervariasi, pada beberapa kasus tidak ditemukan perubahan dalam frekuensi munculnya serangan, sementara pada sebagian lagi dilaporkan serangan panik menurun atau meningkat.
Bagaimana pengobatannya?
Gangguan panik di luar masa kehamilan memberi hasil sangat baik dengan psikoterapi, obat dan seringkali keduanya digabung. Psikoterapinya termasuk latihan relaksasi (merelaksasi seluruh otot tubuh sambil mengatur nafas).
Pada kondisi hamil ini, pemberian obat diberikan dengan sangat hati-hati.
Sebaiknya calon ayah diikutsertakan sebagai pendukung.
Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder)
Gambaran utamanya adalah adanya kecemasan yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama, beberapa minggu atau beberapa bulan).
Gejalanya terdiri atas keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, berdebar-debar, pusing kepala dan keluhan perut adalah keluhan yang sering ditemukan. Sulit pula dibedakan dengan kecemasan normal yang terjadi pada ibu hamil dan pasca persalinan.
Angka kejadian pada populasi umum sekitar 5%, sedangkan pada masa kehamilan dan pasca persalinan berkisar pada angka 4,4 – 8,5%.
Bagaimana pengobatannya?
yaitu dengan psikoterapi, obat (pemberian sangat hati-hati) ataupun kombinasi keduanya.Latihan relaksasi juga diberikan.
Suami sebaiknya diikutsertakan sebagai pendukung (diberi arahan tentang sikap yang dapat mendukung sang istri yang sedang hamil).
Gangguan Obsesif Kompulsif
Gangguan ini ditandai oleh adanya intrusi pikiran dan atau bayangan yang berulang dan menetap (obsesif) dan atau perilaku berulang yang dirasakan sangat mendesak untuk dilakukan (kompulsi). Ibu hamil mengenali pikiran atau perilakunya tidak masuk akal, ada upaya untuk meniadakan tetapi hal tersebut kembali berulang, sehingga merasa sangat terganggu dengan pikiran atau perilaku tersebut.
Angka kejadian Gangguan Obsesif Kompulsif (GOK) dalam setahun pada populasi umum berkisar 1,5-2,1%. Pada populasi ibu hamil dilaporkan sekitar 0,2-1,2% dan 2,7-3,9% pada periode pasca persalinan.
Perempuan dengan GOK selama masa kehamilan melaporkan lebih banyak adanya pikiran obsesif tentang kontaminasi kuman atau ritual kebersihan dan cuci-cuci. Sementara pasca persalinan lebih banyak berupa pikiran obsesif tentang melukai bayinya. Kekhawatiran tentang pikiran melukai atau mencelakai bayi ini juga terjadi pada depresi pasca persalinan.
Bagaimana pengobatannya?
Terapinya terdiri atas pemberian obat dan psikoterapi.
Psikoterapi dapat menjadi terapi yang cukup efektif selama sang ibu sedang hamil atau menyusui.
Bagaimana Kiat Menghadapi dan Menjalani Kondisi Stres Saat Hamil?
Bila seorang ibu hamil mengalami stres, beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:
Menerima dan memahami kondisi kehamilannya.
Mengusahakan agar berbahagia menjalani proses kehamilannya.
Meminta dukungan sosial terutama orang terdekat (suami, ibu kandung, sahabat).
Bila mengalami peristiwa yang memicu stres – berusaha fokus untuk situasi saat itu (hari itu), tidak memikirkan masa lalu dan tidak pula memikirkan masa depan (being mindful).
Mendiskusikan masalah tersebut dengan orang-orang terpercaya atau bantuan profesional.
Apakah Bisa Dicegah?
Stres, depresi dan kecemasan pada kehamilan dapat dicegah apabila dikenali tanda-tanda dan gejalanya dan segera mencari pertolongan professional – mengingat dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh ibu hamil untuk mencegah stres, antara lain mengubah gaya hidup menjadi yang lebih sehat, yaitu gaya hidup seimbang terdiri atas diet sehat, olah raga, bekerja atau beraktivitas, menyediakan waktu untuk diri sendiri (termasuk melakukan hobby, rekreasi) serta menyediakan waktu untuk spiritualitas (pribadi serta dengan keluarga).
Simpulan
Seorang perempuan yang sedang hamil namun stres, akan mengalami perubahan-perubahan dalam pikiran, perasaan serta perilaku. Stres yang dialami oleh ibu hamil tersebut, dapat tampil sebagai beberapa kondisi, dan yang tersering adalah depresi dan kecemasan, yang kemudian dapat berlanjut hingga pasca persalinan.
Kondisi stres, depresi dan kecemasan pada ibu hamil dapat berdampak terhadap janin yang dikandung. Oleh karena itu, bila ibu hamil namun stres atau depresi atau cemas berlebihan, sebaiknya segera dibantu untuk mencari pertolongan profesional.
Untuk mencegah terjadinya stres, depresi dan kecemasan dalam kehamilan, seorang calon ibu dan suaminya sebaiknya:
Merencanakan dengan matang saat yang tepat untuk hamil
Mengenali perubahan-perubahan pada diri calon ibu baik fisik maupun mental, serta berusaha menerima berbagai perubahan.
Bila ada keluhan dari sang ibu hamil (fisik maupn mental), diajak berbicara dari hati ke hati oleh orang terdekat (misalnya suami atau ibu kandung). Bila tidak bisa membuat relax, segera diantar ke dokter agar segera diatasi dan tidak berakibat buruk.
Bila merasa stres, lakukan relaksasi (bisa seperti yang diajarkan dokter), atau melakukan hal-hal lain yang membuat relax (misalnya olah raga ringan, melakukan hobby.




